Peneliti Indonesia

Sejarah Seni Pertunjukan

Seni pertunjukkan tidak hanya melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Selain itu, adapula unsur-unsur yang terdapat pada seni pertunjukkan, diantaranya ruang dan waktu, tubuh si seniman, serta hubungan seniman dengan penonton.

S eni pertunjukkan atau performance art merupakan segala ungkapan seni yang substansi dasarnya adalah yang dipergelarkan langsung di hadapan penonton. Hal ini sudah jelas,

Ketika ada sebuah pertunjukkan tentu ada penonton yang menyaksikan pertunjukkan yang sedang berlangsung. Seni pertunjukkan tidak hanya melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Selain itu, adapula unsur-unsur yang terdapat pada seni pertunjukkan, diantaranya ruang dan waktu, tubuh si seniman, serta hubungan seniman dengan penonton.

Semua unsur tersebut sudah pasti kita jumpai dalam setiap pertunjukkan. Pertunjukkan seni biasanya tidak hanya sebatas berkenaan dengan unsur-unsur keindahan saja, tetapi juga memuat fungsi-fungsi tertentu seperti fungsi ritual, pendidikan, hiburan, dan bahkan bisa dijadikan sarana dalam melakukan kritik sosial.

Kesenian klasik yang berevolusi dari media animism (berhubungan dengan alam gaib) sampai teater rakyat dan akhirnya menapaki kesenian istana. Sudah berabad-abad, mayoritas penduduk Jawa menganut agama Islam. Meski begitu, mereka sejatinya tetap menganut animism dan dinamisme (Ponder 1941,114). Mitos dan legenda dewa-dewi, roh, hantu, dan jin, yang berasal dari zaman pra-Islam atau bahkan pra-Hindu, hidup lestari (Lambster 1934,82). Banyak seni pertunjukan dan peran-peran yang ditarikan berasal dari mitos dan legenda tadi (Lambster 1934,90).

Warisan kebudayaan tersebut sebagian dilestarikan dan diperhalus di lingkungan keraton. Pertunjukan tari dan wayang orang professional menghabiskan banyak biaya karena persiapannya butuh banyak tenaga manusia. Sementara itu, ragam budaya lain tetap dibiarkan lestari di kalngan rakyat, contohnya ronggeng. Ada kalanya kesenian keratin meretas menjadi kesenian pergaulan. Di kalangan rakyat, tarian ini tidak lagi terjaga dan tidak dapat menunjukkan keutamaannya sebagai kesenian terhormat, melainkan menjadi kesenian yang bersifat profane. Begitulah nasib Nayuban.

Saat islam memasuki jawa, agama baru ini mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kepercayaan menyembah berhala. Namun, hal tersebut dapat ditoleransi, asalkan tidak lagi muncul dalam bentuk acara ibadat, melainkan hanya sekadar hiburan biasa. Ada yang menganggap Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa menciptakan jenis kesenian baru, seperti wayang golek, dan wayang kulit. Namun sejatinya mereka hanya sekularisasi kesenian lama (Graaf 1983,32).

Alhasil, banyak seni pertunjukan yang asalnya dari ritual keagamaan, yang mengungkapkan hubungan antara manusia dan dunia lain, memiliki fungsi untuk mengusir roh jahat. Di zaman modern kesenian-kesenian itu hanya menjadi aksesori belaka untuk meramaikan hajatan, contohnya di pesta pernikahan, khitanan, dan pindah rumah.

Evolusi budaya juga terjadi pada Wayang Cina yang diimpor oleh pendatang dari negeri tirai bamboo. Dalam perkembangannya, alih-alih menikmati pertunjukan, para penonton lebih sibuk minum the dan makan kudapan, sambil bersosialisasi (Maurik 1897, 285) berbeda dengan orang Jawa yang menghadiri pertunjukan kesenian lalu menikmatinya dalam diam dan dengan penuh rasa hormat (idem, 222).

Tiga macam pesta rakyat yaitu, Acara Tahunan, Garabeg, dan Rebutan, diperkirakan berasal dari acara yang sama: selamatan alam. Hasil panen ditumpuk dan dikurbankan. Meski asal-usulnya sama, masing-masing berkembang menurut kebudayaan masing-masing: Sunda, Jawa, dan Tionghoa.
Tidak semua kesenian tersebut masih bisa ditemui pada abad ke-21 ini. Wayang Topeng jalanan sudah hamper punah, yang tersisa tinggal ketoprak dan ludruk yang para pemainnya sudah tidak bertopeng lagi, kecuali scenario membutuhkannya. Begitu juga wayang khas Madura, kesenian ini sudah lama punah sehingga orang Madura sendiri mungkin tidak tahu kalau mereka pernah mempunyai wayang.

SUMBER

Partisipasi dalam persiapan Artikel ini :
PENERJEMAH : Ismail
PENGOREKSI ILMIAH : Rachel
PENGOREKSI BAHASA : Gracio
DESAIN GAMBAR : Pranaja

 

 

 

 

 

 

 

 

Tambahkan komentar

Most Viewed Posts

Follow us

Jangan malulah, hubungi. Kami senang bertemu dengan orang yang menarik dan mencari teman baru.