Peneliti Indonesia

Pulau terpencil memiliki kepadatan sampah plastik ‘terburuk di dunia’

Pulau terpencil memiliki kepadatan sampah plastik ‘terburuk di dunia’

Pulau terpencil memiliki kepadatan sampah plastik ‘terburuk di dunia’



Pulau terpencil memiliki kepadatan sampah plastik ‘terburuk di dunia’



 

S ampah plastik di pantai di Pulau Henderson di luar Amerika Selatan. Pantai di Pulau Henderson, di luar Amerika Selatan, diperkirakan berisi sekitar 37,7 juta item dari serpihan puing-puing limbah yang kebanyakan terdiri dari limbah plastik rumah tangga.

Baca Juga : Makam Kapal Ditemukan Di Laut Hitam Telah 2.500 Tahun

Peneliti asal Australia, Dr Jennifer Lavers mengatakan bahwa dia sangat kecewa dengan temuannya dan menyebutnya sebagai peringatan bagi dunia bahwa polusi plastik sama seriusnya dengan ancaman kemanusiaan seperti perubahan iklim. Pada tahun 2014, dunia menghasilkan 311 juta ton plastik per tahun.



Ini bukanlah sebuah penemuan ilmiah yang patut dibanggakan.

Pulau terpencil memiliki kepadatan sampah plastik 'terburuk di dunia'
Pulau terpencil memiliki kepadatan sampah plastik ‘terburuk di dunia’

Dr Lavers mengatakan akumulasi sampah plastik di Pulau Henderson itu merupakan plastik yang dihasilkan dalam 1,98 detik dari total produksi sampah plastik dunia tersebut. Sampah berjumlah 671 item per meter persegi dan total 17 ton.

“Banyak barang di Pulau Henderson yang kami salah pakai sebagai sekali pakai ,” kata Dr Jennifer Lavers dari University of Tasmania.

Berisi sekitar 37,7 juta item dari serpihan puing-puing limbah yang kebanyakan terdiri dari limbah plastik rumah tangga.
Berisi sekitar 37,7 juta item dari serpihan puing-puing limbah yang kebanyakan terdiri dari limbah plastik rumah tangga.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences, menggambarkan bagaimana pulau-pulau terpencil bertindak sebagai “tempat tenggelam” bagi sampah dunia.

Selain barang-barang memancing, Pulau Henderson dipenuhi dengan barang-barang sehari-hari termasuk sikat gigi, pemantik rokok dan pisau cukur.

Kondisi pulau itu menyoroti bagaimana puing-puing plastik telah mempengaruhi lingkungan dalam skala global, kata Dr Lavers.

“Hampir setiap pulau di dunia dan hampir setiap spesies di lautan sekarang sedang ditunjukkan untuk dipengaruhi satu atau lain cara oleh limbah kita,” katanya.

“Tidak ada satu pun orang atau satu pun negara yang mendapat izin gratis tentang ini.”

Dia mengatakan plastik menghancurkan lautan karena itu ringan dan tahan lama. Penelitian ini dilakukan oleh Institute for Marine and Antartic Studies di University of Tasmania, dan Centre for Conservation Science di Royal Society for Protection of Birds.

SUMBER

Partisipasi dalam persiapan Artikel ini :
PENERJEMAH : Ismail
PENGOREKSI ILMIAH : Afif
PENGOREKSI BAHASA : Susi
DESAIN GAMBAR : Farriz

Tambahkan komentar

Most Viewed Posts

Follow us

Jangan malulah, hubungi. Kami senang bertemu dengan orang yang menarik dan mencari teman baru.