Peneliti Indonesia

Etika Penghambat Mobil Tanpa Pengemudi

Berkurangnya angka kecelakaan jalan raya menjadi sangat penting sebab World Health Organization (WHO) mencatat 1,25 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan itu pula yang menjadi penyebab utama kematian orang muda berumur 15 hingga 29 tahun.

Imajinasi tentang mobil yang dapat membawa dirinya sendiri tanpa pengemudi sudah berusia cukup lama. Saat melihat hal itu terjadi di depan mata, mulut bisa menganga, dan sejumlah kata-kata seperti futuristik, canggih, keren pun berlompatan dalam pikiran.

P ada 2003, manusia sudah terpukau dengan kemampuan mobil hibrid Toyota, Prius, yang disebut dengan sistem intelligent parking assist. Sistem tersebut memungkinkan Prius melakukan parkir paralel secara otomatis tanpa bantuan tangan manusia.

Kini, dalam dua tahun terakhir, dunia semakin dibuat terpukau dengan kemampuan fitur AutoPilot pada mobil listrik buatan Tesla Motors. Meski sempat membawa korban beberapa waktu yang lalu, fitur AutoPilot yang ada pada mobil-mobil Tesla merupakan teknologi yang paling mendekati puncak teknologi mobil tanpa pengemudi (autonomous car) yang dimiliki manusia dan dapat diakses publik.

Namun di balik semua faktor, sesungguhnya ada beberapa hal lebih vital yang ditawarkan mobil tanpa pengemudi. Ia menjanjikan berkurangnya kemacetan di jalanan melalui kontrol yang lebih terintegrasi. Tapi yang lebih penting, teknologi ini menjanjikan mampu mengurangi angka kecelakaan kendaraan bermotor dengan tajam.

Berkurangnya angka kecelakaan jalan raya menjadi sangat penting sebab World Health Organization (WHO) mencatat 1,25 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan itu pula yang menjadi penyebab utama kematian orang muda berumur 15 hingga 29 tahun.

Jika tidak ada penanganan yang mumpuni, kecelakaan lalu lintas diprediksi akan meningkat dan akan menjadi salah satu dari tujuh penyebab utama kematian global pada 2030.

Sudah bukan rahasia jika penyebab utama kecelakaan di jalan raya adalah faktor manusia. Statistik sudah mengungkapkan fakta tersebut.
Menurut studi yang dilakukan Departemen Transportasi Amerika Serikat pada 2015, sebanyak 94 persen penyebab kecelakaan di negara tersebut adalah faktor manusia. Sementara di Indonesia, Indonesia Traffic Watch (ITW) mengklaim bahwa 80 persen penyebab kecelakaan di jalan raya pada 2014, baik kendaraan roda dua maupun roda empat, karena kesalahan manusia.

Hal yang sama terjadi di Inggris Raya. Berdasarkan catatan kepolisian, “kegagalan untuk melihat dengan baik” menjadi penyebab lebih dari 30,000 kecelakaan pada 2013. Dengan data sedemikian rupa, teknologi autonomous car menjadi ide yang menarik.

Mercedes Benz pada Oktober lalu, misalnya, mengatakan bahwa mereka akan lebih memprioritaskan keselamatan penumpang yang berada dalam kendaraan autonomous terbaru mereka. Hal ini berarti jika mobil-mobil Mercedes dihadapkan pada situasi itu, mereka akan memilih untuk mengambil opsi ketiga, tetap berjalan lurus, yang dapat menewaskan sejumlah anak yang menyeberang.

“Jika Anda tahu Anda dapat menyelamatkan setidaknya satu orang, setidaknya selamatkanlah satu orang itu. Satu orang yang berada di dalam mobil,” kata Christoph von Hugo, manajer sistem bantuan pengemudi dan keselamatan aktif Mercedes, seperti dikutip dari laman Car and Driver. “Jika Anda tahu pasti bahwa satu kematian dapat dicegah, maka itulah prioritas pertama Anda.”

Dalam perspektif produsen mobil, hal itu jelas masuk akal. Sebab, jelas tidak ada konsumen yang mau membeli mobil jika tahu mobil tersebut akan lebih memprioritaskan keselamatan orang lain daripada sang konsumen. Skenario di mana setiap produsen mobil akan mengikuti jejak Mercedes menjadi hal mudah dibayangkan.

Kondisi tersebut akan membuat situasi menjadi pelik. Pemerintah di berbagai belahan dunia, sebagai pihak yang membuat peraturan, akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memutuskan bagaimana autonomous car dapat diadopsi dan berjalan dalam kehidupan sehari-hari jika para produsen mobil memutuskan mengikuti jejak Mercedes.

Sudah jelas bahwa manusia harus menyiapkan banyak perencanaan sebelum melepaskan robot ke dalam kehidupan sehari-hari.  Singkatnya, kita sangat membutuhkan rencana yang sama sekali baru untuk persoalan transportasi ini. “Sebuah rencana yang mampu dengan sangat dalam memikirkan kembali peran automobil yang dimainkan dalam kehidupan kita. Itu akan mengambil waktu setidaknya satu generasi,” tutur Battelle.

SUMBER

Partisipasi dalam persiapan Artikel ini :
PENERJEMAH : Ismail
PENGOREKSI ILMIAH : Chelsea
PENGOREKSI BAHASA : Yossi
DESAIN GAMBAR : Pras

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tambahkan komentar

Most Viewed Posts

Follow us

Jangan malulah, hubungi. Kami senang bertemu dengan orang yang menarik dan mencari teman baru.