Peneliti Indonesia

Pembangunan Kota Terapung di Afrika

T inggalkan pola pembangunan reklamasi demi memenuhi pertumbuhan pemukiman dan kota. Pola pembangunan kota terapung ramah lingkungan, modern, berkelanjutan mungkin dapat menjadi solusi mengatasi pertumbuhan penduduk pesisir atau perluasan kota.
Di berbagai belahan dunia proyek pembangunan kota terapung ramah lingkungan, modern mulai diperkenalkan. Bahkan di Afrika, China, Eropa, berbagai rencana, disain proyek pembangunan kota terapung sudah mulai direalisasikan, mulai dari yang sederhana hingga kompleks.

Mengapa pembangunan kota terapung
Secara umum, banyak faktor yang menjadi latar belakang pembangunan kota terapung, diantaranya perbaikan pemukiman kumuh di daerah pesisir, pertumbuhan kota membutuhkan ruang lebih besar untuk perluasan pemukiman, industri, mengantisipasi kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim,

antisipasi tenggelamnya kota akibat intrusi air laut, reklamasi berdampak buruk terhadap ekosistem pesisir, mengantisipasi krisis lingkungan hidup.

Di Nigeria, Afrika, seorang arsitek bernama Kunle Adeyemi, mencoba mengubah daerah pemukiman kumuh atas air di pesisir menjadi kota terapung yang indah dan layak huni. Proyek ambisius ini mencoba mengatasi berbagai masalah pemukiman pesisir seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya curah hujan, perubahan iklim mengancam banyak struktur ini, meninggalkan warga kumuh yang tinggal di atas air tersebut rentan terhadap banjir dan bencana lainnya.
Beberapa tahun lalu, Adeyemi mengembangkan sekolah terapung di Makoko, sebagai bagian dari rencana besar pembangunan kota terapung modern. Struktur bangunan terbuat dari plastik daur ulang, kayu dan bambu, bertenaga surya, ventilasi alami serta dapat menyimpan dan mengalirkan air. Bentuk segitiga yag dipilih menjadi bentuk bangunan berdasarkan pertimbangan bahwa itu terbaik, cocok agar bangunan dapat mengapung di atas air karena memiliki pusat gravitasi rendah-membantu struktur bangunan tetap stabil walau ditiup angin.

Kebanyakan rumah di Makoko berdiri di atas panggung yang tidak terlindungi dari resiko banjir. Kawasan kumuh tersebut memiliki jaringan drainase yang buruk sehingga menyebabakan berbagai masalah lingkungan hidup dan kesehatan.
Sekolah terapung Makoko menampung hingga 100 murid sekolah dasar. Sekolah ini telah menjadi lebih dari sekedar sebuah sekolah. Tetapi, juga menjadi ruang publik bagi masyarakat, tempat pertemuan, pertunjukan, dan pasar.

Berbeda di Afrika, berbeda pula kisah pembangunan kota terapung yang digagas oleh sebuah perusahaan Jepang, Shimizu Corporation, dengan proyek kota futuristik bernama Ecotopia. latar belakang pembangunan kota terapung masa depan bernama Ecotopia adalah banyaknya masalah lingkungan hidup seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya suhu, perubahan iklim, berkurangnya sumber daya alam. Untuk mengatasi hal tersebut, direncanakanlah Ecotopia.

Kota terapung mandiri dan berkelanjutan
Pertanyaan kemudian adalah bagaimana kota-kota tersebut dapat memenuhi kebutuhannya? Jawabannya terletak pada konsep kemadirian kota, seperti proyek Ecotopia. Proyek Ecotopia direncanakan sebagai kota terapung yag sungguh-sungguh mandiri: memiliki vegetasi, menghasilkan listrik sendiri, memiliki lahan pertanian, mengelola limbah, menyediakan air bersih.

Proyek Ecotopia direncanakan dibangun di sekitar katulistiwa pasifik, kemungkinan dekat Jepang. “Green Float” adalah konsep proyek ini. Konsep Green Float adalah sebuah konsep pembangunan kota terapung yang menghubungkan serangkaian pulau terapung dengan kota-kota pencakar langkit ekologis di mana orang hidup, bekerja dan dapat dengan mudah berkebun, memiliki ruang terbuka, pantai, bahkan “hutan”. Kepulauan yang terhubung bersama-sama membentuk modul. Sejumlah modul dikelompokkan bersama-sama membentuk “negara” berpenduduk sekitar 1 juta orang.
Sebuah menara setinggi 1.000 m di tengah pulau bertindak sebagai pertanian vertikal sekaligus merupakan perumahan, ruang komersial dan kantor. Ruang hijau, pantai, dan terminal air di bidang datar dari pulau, semuanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Energi untuk pulau-pulau akan dihasilkan dari sumber terbarukan seperti panas matahari, angin, dan panas laut, dan mereka juga mengusulkan untuk mengumpulkan energi matahari dari angkasa, mungkin dari ide gila mereka sendiri untuk menginstal sabuk surya di bulan.

Di lain pihak, walaupun tidak secanggih proyek Ecotopia milik Shimizu, proyek Makoko di Nigeria yanag lebih sederhana telah berhasil mengurangi masalah lingkungan dengan menggunakan bahan daur ulang sebagai material bangunan.

Sementara itu, proyek lainnya juga direncanakan oleh perusahaan pengembang AT Design Office yang berbasis di London, dengan dukungan investor Tiongkok, kota terapung ini juga mengusung kemandirian dan kota ramah lingkungan.

Berdasarkan konsepnya, kota terapung ini akan berbentuk empat persegi yang mengambang di atas laut. Struktur kompleks terdiri dari modul heksagonal dihubungkan dengan terowongan bawah laut yang membuat jaringan jalan dan trotoar.

Proyek pembangunan kota terapuang ramah lingkungan ini diharapkan menjadi mandiri, dengan memproduksi makanan, pembangkit listrik, sistem pengelolaan limbah. Transportasi antar kota akan difasilitasi oleh mobil listrik atau mode trasnportasi nol-karbon lainnya.

SUMBER

Partisipasi dalam persiapan Artikel ini :
PENERJEMAH : Ismail
PENGOREKSI ILMIAH : Fitry
PENGOREKSI BAHASA : Nayla
DESAIN GAMBAR : lutfy

 

 

 

 

 

 

Tambahkan komentar

Follow us

Jangan malulah, hubungi. Kami senang bertemu dengan orang yang menarik dan mencari teman baru.